Selamat datang di blog ini, jika ada yang mau ditanyakan silahkan tulis di komentar. Terima kasih
Translate
Ruang Terbuka Hijau
Di Makassar pembangunan perumahan, gedung untuk kantor, toko dan perbelanjaan begitu marak dilakukan. Luas lahan yang dibutuhkan juga semakin bertambah. Para pengembang terus mencari lahan baru untuk dijadikan lokasi bisnis dan perkantoran. Hal ini menyebabkan luas lahan yang menjadi ruang terbuka hijau semakin berkurang.
Jika sedang berada di Makassar, maka anda akan menemui beragam jenis bangunan yang sedang dibuat dalam berbagai kondisi. Mulai dari tahap penimbunan, pondasi, pengerjaan hingga yang sudah memasuki tahap akhir. Gedung-gedung tinggi dibangun di berbagai lokasi. Ada yang akan ditujukan untuk hotel, perkantoran dan bisnis. Lalu dimana letak ruang hijau di Makassar? Pertanyaan itu akan terjawab jika anda menuju ke lapangan Karebosi di pusat kota. Di lokasi ini tumbuh berbagai jenis pohon dan tanaman. Di tempat inilah berbagai kegiatan warga biasa dilakukan, mulai dari olahraga, jalan-jalan, upacara, sampai tempat pertunjukan berbagai kegiatan seni.
Ada satu lagi lokasi terbuka yang hijau di Makassar, yaitu di kampus Universitas Hasanuddin (Unhas). Di tempat ini tumbuh berbagai jenis pohon yang berukuran kecil, sedang dan besar. Disini juga terdapat tiga danau buatan. Salah satu lokasi menjadi tempat favorit para pemancing meskipun sebenarnya di area in dilarang untuk memancing. Kalau anda tidak tahan dengan cuaca kota Makassar yang panas, tidak ada salahnya jika datang berkunjungnke dua lokasi ruang hijau tadi.
Kemarau Masih Panjang
Pemulung Sampah
Belimbing Yang Bertahan
Butterfly Ordinary
Darimana datangnya kupu-kupu? Yang saya ketahui dengan gampang adalah dariseekor ulat yang bermetamorfosis jadi kepompong lalu menghasilkan kupu-kupu yang beragam warna.
Nah salah satubentuk kupu-kupu yang paling sering dijumpai adalah yang ada di foto ini.
Pohon Besar Di Tepi Trotoar Kampus Unhas
Lingkungan tempat kita tinggal akan terasa sejuk dan nyaman jika berada di antara pepohonan yang rindang. Udara yang kita hirup dari alam terasa segar dan menyehatkan. Hal ini saya alami saat berjalan-jalan di sekitar kampus Universitas Hasanuddin Makassar. Di area kampus itu tumbuh berbagai jenis pohon dengan beragam ukuran. Ada yang baru tumbuh dan ada pula yang sudah berumur tahunan, bahkan yang berukuran besar juga dapat ditemui disini.
Demikian juga trotoar yang dibangun disekitar area kampus, pada sisinya ditanami pohon-pohan yang tumbuh dengan subur dan rindang. Kondisi ini membuat para pejalan kaki menjadi lebih santai dan menikmati lingkungan kampus yng asri. Saya bisa membayangkan betapa tenangnya para mahasiswa yang menuntut ilmu di kampus itu. Semua karena banyaknya pepohonan yang tumbuh di area kampus.
Kita semua bisa turut memikmati dan menjaga lingkungan sekitar tempat tinggal kita masing-masing. Tentu saja dengan menanam aneka ragam pohon, baik yang sekedar untuk pelindung atau sekaligus yang dapat menghasilkan buah, misalnya pohon mangga dan rambutan. Lingkungan yang asri dan sehat tentu menjadi dambaan setiap orang, maka mulailah menjaganya dari sekarang.
Mampir Beli Markisa
Buah markisa (passiflora edulis) adalah tanaman yang tumbuh di daerah pegunungan atau dataran tinggi. Di Indonesia selama ini markisa diketahui banyak tumbuh di wilayah Sulawesi Selatan, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Buah markisa ini selain dapat dimakan langsung seperti buah mangga, bisa juga diolah menjadi minuman yang sungguh nikmat jika diminum dalam keadaan dingin.
Dalam perjalanan saya dari Wamena ke Tiom kabupaten Lanny Jaya, kami singgah di sebuah tempat yang saya lupa namanya tetapi tidak jauh dari ibukota distrik Makki. Disitu kami singgah membeli buah markisa yang masih segar sehabis dipetik dari kebun. Bentuk markisa itu kira-kira seukuran kepalan tangan, berwarna kuning atau sedikit oranye. Adapula markisa yang masih berwarna hijau, tadinya saya pikir akan terasa kecut, ternyata tidak karena masih manis juga.
Harga seikat buah markisa Rp.20.000 dengan jumlah buah sebanyak 6 sampai 8 dalam satu ikatan. Nah berbeda dengan wilayah lain di republik Indonesia, transaksi belanja antara pembeli dan penjual di Papua umumnya tidak dikenal istilah tawar menawar, mungkin anda punya pengalaman tawar menawar saat belanja di Papua, tetapi barangkali anda menawar pada penjual pendatang/perantau, sebab umumnya orang asli Papua dalam menjual tidak ingin barang dagangannya ditawar. Biasanya jika ditawar mereka tidak mau menanggapi atau bahkan bisa saja si penjual malah tersinggung dan mengatakan, "kalau tidak mau beli disini, cari di tempat lain saja". Maka berapapun harga barang yang dipasang oleh pedagang asli Papua maka anda harus membayarnya jika memang berminat pada barang tersebut.
Setelah membeli markisa di tempat pemberhentian tadi kamipun melanjutkan perjalanan yang masih menyisakan jarak tempuh sekitar 30 kilometer, melewati jalanan berbatu, berkelok-kelok. Untungnya kami melewati jalan yang disisi kanan terhampar pemandangan lembah, jurang dan pegunungan yang indah.


