Translate

Tampilkan postingan dengan label nature. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label nature. Tampilkan semua postingan

Ruang Terbuka Hijau

Di Makassar pembangunan perumahan, gedung untuk kantor, toko dan perbelanjaan begitu marak dilakukan. Luas lahan yang dibutuhkan juga semakin bertambah. Para pengembang terus mencari lahan baru untuk dijadikan lokasi bisnis dan perkantoran. Hal ini menyebabkan luas lahan yang menjadi ruang terbuka hijau semakin berkurang.

Jika sedang berada di Makassar, maka anda akan menemui beragam jenis bangunan yang sedang dibuat dalam berbagai kondisi. Mulai dari tahap penimbunan, pondasi, pengerjaan hingga yang sudah memasuki tahap akhir. Gedung-gedung tinggi dibangun di berbagai lokasi. Ada yang akan ditujukan untuk hotel, perkantoran dan bisnis. Lalu dimana letak ruang hijau di Makassar? Pertanyaan itu akan terjawab jika anda menuju ke lapangan Karebosi di pusat kota. Di lokasi ini tumbuh berbagai jenis pohon dan tanaman. Di tempat inilah berbagai kegiatan warga biasa dilakukan, mulai dari olahraga, jalan-jalan, upacara, sampai tempat pertunjukan berbagai kegiatan seni.

Ada satu lagi lokasi terbuka yang hijau di Makassar, yaitu di kampus Universitas Hasanuddin (Unhas). Di tempat ini tumbuh berbagai jenis pohon yang berukuran kecil, sedang dan besar. Disini juga terdapat tiga danau buatan. Salah satu lokasi menjadi tempat favorit para pemancing meskipun sebenarnya di area in dilarang untuk memancing. Kalau anda tidak tahan dengan cuaca kota Makassar yang panas, tidak ada salahnya jika datang berkunjungnke dua lokasi ruang hijau tadi.

Kemarau Masih Panjang

Sudah beberapa bulan ini kemarau melanda sebagian besar wilayah di Indonesia. Di Sumatera dan Kalimantan bahkan terjadi kebakaran hutan dan lahan yang meluas. Asap dari kebakaran terasebut menyebar hampir di seluruh wilayah Sumatera dan Kalimantan. Asap bahkan tertiup angin sampai ke negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia. Tentu saja hal itu mengganggu hubungan antara Indonesia dan negara tetangga.

Kabut asap yang pekat pasti mengakibatkan beragam dampak, seperti meningkatnya penderita infeksi pada saluran pernapasan. Belum lagi bagi penderita penyakit asma, mereka akan sangat tersiksa. Selain itu kabut asap juga sangat berpengaruh pada pengendara di jalan, angkutan sungai dan yang lebih parah ratusan jadwal penerbangan harus dihentikan karena jarak pandang yang sangat tidak aman sehingga tidak mungkin diadakan perjalanan dengan pesawat udara. Bisa dibayangkan berapa besar kerugian yang timbul akibat kebakaran hutan yang menimbulkan asap tebal itu.

Kebakaran hutan dan lahan sebenarnya bukan murni disebabkan oleh faktor alam dimana panas yang timbul akibat kemarau yang panjang, melainkan disebabkan juga oleh ulah orang-orang yang ingin membuka lahan atau membersihkan lahan dengan cara membakar ilalang atau semak belukar di wilayah itu. Akibatnya api merambat dengan cepat karena membakar daun dan ranting yang kering. Lebih parah lagi, lahan yang terbakar terdiri dari tanah gambut, dimana api bisa merambat di dalam tanah.

Kemarau juga menimbulkan kekeringan yang berakibat kurangnya persediaan air di beberapa wilayah di Indonesia. Dari pemberitaan di media, kita bisa menyaksikan, orang-orang yang terpaksa menggunakan air kotor yang sudah tercemar untuk keperluan hidup sehari-hari. Sumur-sumur bahkan sungai ada yang mengering membuat warga harus antri menunggu pembagian air bersih dari bantuan pemerintah. Musim kemarau ini nampaknya masih panjang.

Seandainya saja hutan sebagai sumber cadangan air tetap terjaga kelestariannya, tentu musim kemarau tidak akan terlalu berpengaruh pada kehidupan sehari-hari karena hutan akan terus mengalirkan air ke sungai untuk memenuhi waduk-waduk sebagai tempat penampungan air yang dibutuhkan oleh manusia.

Pemulung Sampah

Sampah menjadi salah satu permasalahan di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya termasuk Makassar. Urusan sampah selalu membuat pusing. Jika sudah menumpuk di tempat pembuangan atau tong depan rumah, maka saatnya untuk di buang ke tempat pembuangan akhir (TPA). Akibat urusan sampah ini, terkadang dua wilayah saling bersinggungan ketika akan menentukan dimana lokasi TPA sebuah kota. Tentu saja kota lain tidak ingin wilayahnya dijadikan tempat membuang sampah.
Begitu banyak jenis sampah yang dihasilkan setiap hari dari rumah tangga. Mulai sampah kering seperti plastik sampai yang basah seperti sisa makanan. Sampah itu menumpuk menjadi satu dalam tempat pembuangan. Jika tidak segera dibawa ke TPA, akan menumpuk dan mengeluarkan bau busuk yang mengganggu penciuman.
Untungnya, selain ada tukang sampah yang setiap hari bekerja mengumpulkan sampah dari rumah tangga, ada pula pemulung yang bekerja mengumpulkan berbagai jenis sampah plastik. Mulai dari gelas plastik bekas air mineral, botol plastik minuman ringan, serta berbagai jenis peralatan rumah tangga yang sudah tidak terpakai.
Para pemulung itu dengan tekun terus memilah sampah untuk mendapatkan berbagai limbah yang masih bisa didaur ulang. Pekerjaan seperti ini selintas seperti menjijikkan bagi sebagian orang, tetapi bagi pemulung inulah cara untuk mendapatkan penghasilan dengan menjual barang tidak terpakai yang masih bisa digunakan untuk keperluan lain atau daur ulang.

Belimbing Yang Bertahan

Sekitar lima bulan yang lalu, pohon belimbing yang ada di depan rumah kami dipangkas dahan dan rantingnya. Bahkan pohonnya dipotong hingga menyisahkan setengah batang saja.
Secara kasat mata kondisi itu akan berpengaruh terhadap kelangsungan hidup si pohon belimbing, karena ia sudah kehilangan setengah dari batangnya. Lalu hidup tanpa daun pula. Yang saya ketahui bahwa daun pada sebatang pohon sangat berguna untuk memproses nutrisi yang telah diisap dari dalam tanah. Bahasa sederhananya, daun berfungsi sebagai tempat untuk memasak makanan dengah bantuan sunar matahari.

Jadi bisa dibayangkan bahwa kelangsungan hidup pohon belimbing itu tidak akan lama lagi. Kemungkinan besar akan layu, kering dan akhirnya mati. Semua itu akibat pemangkasan setengah dari pohon yang sudah dilakukan beberapa bulan lalu.

Akan tetapi alam berkata lain. Ternyata setelah berbulan bulan, pohon belimbing tetap hidup dan berdiri tegak. Hebatnya lagi, belimbing itu justru berbuah dengah lebat meskipun tanpa daun yang sudah tidak tumbuh lagi.

Saya tidak paham tentang pertanian apalagi tumbuh tumbuhan. Tetapi mungkin karena akar pohon belimbing sudah tertanam lebih dalam sehingga ia bisa bertahan sekian bulan. Mungkin juga tanah tempat tumbuhnya memiliki banyak unsur nutrisi yang dibutuhkannya. Sehingga masih bisa berbuah sampai sekarang. Ternyata tanaman saja terus berjuang untuk bertahan hidup. Jadi malulah jika ada orang yang cepat putus asa dalam hidupnya.

Butterfly Ordinary

Darimana datangnya kupu-kupu? Yang saya ketahui dengan gampang adalah dariseekor ulat yang bermetamorfosis jadi kepompong lalu menghasilkan kupu-kupu yang beragam warna.

Nah salah satubentuk kupu-kupu yang paling sering dijumpai adalah yang ada di foto ini.

Pohon Besar Di Tepi Trotoar Kampus Unhas

Lingkungan tempat kita tinggal akan terasa sejuk dan nyaman jika berada di antara pepohonan yang rindang. Udara yang kita hirup dari alam terasa segar dan menyehatkan. Hal ini saya alami saat berjalan-jalan di sekitar kampus Universitas Hasanuddin Makassar. Di area kampus itu tumbuh berbagai jenis pohon dengan beragam ukuran. Ada yang baru tumbuh dan ada pula yang sudah berumur tahunan, bahkan yang berukuran besar juga dapat ditemui disini.

Demikian juga trotoar yang dibangun disekitar area kampus, pada sisinya ditanami pohon-pohan yang tumbuh dengan subur dan rindang. Kondisi ini membuat para pejalan kaki menjadi lebih santai dan menikmati lingkungan kampus yng asri. Saya bisa membayangkan betapa tenangnya para mahasiswa yang menuntut ilmu di kampus itu. Semua karena banyaknya pepohonan yang tumbuh di area kampus.

Kita semua bisa turut memikmati dan menjaga lingkungan sekitar tempat tinggal kita masing-masing. Tentu saja dengan menanam aneka ragam pohon, baik yang sekedar untuk pelindung atau sekaligus yang dapat menghasilkan buah, misalnya pohon mangga dan rambutan. Lingkungan yang asri dan sehat tentu menjadi dambaan setiap orang, maka mulailah menjaganya dari sekarang.

Mampir Beli Markisa

Buah markisa (passiflora edulis) adalah tanaman yang tumbuh di daerah pegunungan atau dataran tinggi. Di Indonesia selama ini markisa diketahui banyak tumbuh di wilayah Sulawesi Selatan, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Buah markisa ini selain dapat dimakan langsung seperti buah mangga, bisa juga diolah menjadi minuman yang sungguh nikmat jika diminum dalam keadaan dingin.

Dalam perjalanan saya dari Wamena ke Tiom kabupaten Lanny Jaya, kami singgah di sebuah tempat yang saya lupa namanya tetapi tidak jauh dari ibukota distrik Makki. Disitu kami singgah membeli buah markisa yang masih segar sehabis dipetik dari kebun. Bentuk markisa itu kira-kira seukuran kepalan tangan, berwarna kuning atau sedikit oranye. Adapula markisa yang masih berwarna hijau, tadinya saya pikir akan terasa kecut, ternyata tidak karena masih manis juga.

Harga seikat buah markisa Rp.20.000 dengan jumlah buah sebanyak 6 sampai 8 dalam satu ikatan. Nah berbeda dengan wilayah lain di republik Indonesia, transaksi belanja antara pembeli dan penjual di Papua umumnya tidak dikenal istilah tawar menawar, mungkin anda punya pengalaman tawar menawar saat belanja di Papua, tetapi barangkali anda menawar pada penjual pendatang/perantau, sebab umumnya orang asli Papua dalam menjual tidak ingin barang dagangannya ditawar. Biasanya jika ditawar mereka tidak mau menanggapi atau bahkan  bisa saja si penjual malah tersinggung dan mengatakan, "kalau tidak mau beli disini, cari di tempat lain saja". Maka berapapun harga barang yang dipasang oleh pedagang asli Papua maka anda harus membayarnya jika memang berminat pada barang tersebut.

Setelah membeli markisa di tempat pemberhentian tadi kamipun melanjutkan perjalanan yang masih menyisakan jarak tempuh sekitar 30 kilometer, melewati jalanan berbatu, berkelok-kelok. Untungnya kami melewati jalan yang disisi kanan terhampar pemandangan lembah, jurang dan pegunungan yang indah.