Translate

Tampilkan postingan dengan label pasar tradisional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pasar tradisional. Tampilkan semua postingan

Belanja Apa Di Pasar

Sebuah pasar swalayan terbesar di Indonesia baru saja dibuka di dekat tempat tinggal saya. Jarak dari rumah ke swalayan itu sekira 700 meter. Cukup dekat, naik motor bisa, jalan kakipun bisa untuk menuju kesana.

Sebenarnya sudah beberapa tahun lalu di sekitar rumah kami telah berdiri toko  swalayan yang berskala kecil. Jaringan toko swalayan ini bertebaran hampir di seluruh kota-kota besar di Indonesia. Tapi ada juga kota besar yang menolak keberadaan toko swalayan atau mart itu, salah satunya adalah Palu ibukota Sulawesi Tengah, entah apa alasan pemerintah daerah disana, yang jelas hingga kini belum ada mart-mart yang beroperasi disana.

Nah, berhubung pasar swalayan terbesar di Indonesia tadi baru buka, saya memutuskan untuk pergi jalan-jalan kesana. Biasanya jika ada toko baru yang dibuka, mereka memberikan diskon untuk berbagai produk kebutuhan sehari-hari. Sampai disana, saya lalu masuk ke toko dan melihat-lihat berbagai macam produk yang dipajang di rak. Saya membeli sabun cuci, sabun mandi, amplop, daging ayam fillet, pelembut pakaian, dan cemilan. Suasana di dalam toko tentu ramai berhubung baru dibuka. Pelayanan disana, standarlah seperti pelayan yang menyapa dengan ramah sambil menawarkan berbagai produk.
Setelah itu saya menuju kasir dan membayar belanjaan tadi. Kemudian menuju tempat parkir untuk mengambil motor lalu kembali menuju ke rumah.

Di perjalanan saya berpikir, sebenarnya pasar swalayan semacam itu cocoknya hanya sebagai tempat berbelanja keperluan sehari-hari seperti sabun, sampo, produk kecantikan bagi wanita, mungkin juga barang elektronik. Untuk kebutuhan makan sehari-hari mendingan beli di pasar tradisional, karena di pasar tradisional segala jenis sayuran, ikan atau daging tersedia. Selain itu tawar menawar harga bisa dilakukan dengan penjualannya, sedangkan di pasar swalayan tidak, karena setiap produk sudah diberi label harga. Kelebihan pasar swalayan karena kita belanja di dalam ruangan berpendingin udara dan bersih. Meskipun di pasar tradisional rungannya tidak pakai AC, tapi jumlah barang yang anda beli bisa lebih banyak dan beragam. Lebih penting lagi harganya bisa ditawar.

Mampir Beli Markisa

Buah markisa (passiflora edulis) adalah tanaman yang tumbuh di daerah pegunungan atau dataran tinggi. Di Indonesia selama ini markisa diketahui banyak tumbuh di wilayah Sulawesi Selatan, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Buah markisa ini selain dapat dimakan langsung seperti buah mangga, bisa juga diolah menjadi minuman yang sungguh nikmat jika diminum dalam keadaan dingin.

Dalam perjalanan saya dari Wamena ke Tiom kabupaten Lanny Jaya, kami singgah di sebuah tempat yang saya lupa namanya tetapi tidak jauh dari ibukota distrik Makki. Disitu kami singgah membeli buah markisa yang masih segar sehabis dipetik dari kebun. Bentuk markisa itu kira-kira seukuran kepalan tangan, berwarna kuning atau sedikit oranye. Adapula markisa yang masih berwarna hijau, tadinya saya pikir akan terasa kecut, ternyata tidak karena masih manis juga.

Harga seikat buah markisa Rp.20.000 dengan jumlah buah sebanyak 6 sampai 8 dalam satu ikatan. Nah berbeda dengan wilayah lain di republik Indonesia, transaksi belanja antara pembeli dan penjual di Papua umumnya tidak dikenal istilah tawar menawar, mungkin anda punya pengalaman tawar menawar saat belanja di Papua, tetapi barangkali anda menawar pada penjual pendatang/perantau, sebab umumnya orang asli Papua dalam menjual tidak ingin barang dagangannya ditawar. Biasanya jika ditawar mereka tidak mau menanggapi atau bahkan  bisa saja si penjual malah tersinggung dan mengatakan, "kalau tidak mau beli disini, cari di tempat lain saja". Maka berapapun harga barang yang dipasang oleh pedagang asli Papua maka anda harus membayarnya jika memang berminat pada barang tersebut.

Setelah membeli markisa di tempat pemberhentian tadi kamipun melanjutkan perjalanan yang masih menyisakan jarak tempuh sekitar 30 kilometer, melewati jalanan berbatu, berkelok-kelok. Untungnya kami melewati jalan yang disisi kanan terhampar pemandangan lembah, jurang dan pegunungan yang indah.