Translate

Tampilkan postingan dengan label pohon. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pohon. Tampilkan semua postingan

Belimbing Yang Bertahan

Sekitar lima bulan yang lalu, pohon belimbing yang ada di depan rumah kami dipangkas dahan dan rantingnya. Bahkan pohonnya dipotong hingga menyisahkan setengah batang saja.
Secara kasat mata kondisi itu akan berpengaruh terhadap kelangsungan hidup si pohon belimbing, karena ia sudah kehilangan setengah dari batangnya. Lalu hidup tanpa daun pula. Yang saya ketahui bahwa daun pada sebatang pohon sangat berguna untuk memproses nutrisi yang telah diisap dari dalam tanah. Bahasa sederhananya, daun berfungsi sebagai tempat untuk memasak makanan dengah bantuan sunar matahari.

Jadi bisa dibayangkan bahwa kelangsungan hidup pohon belimbing itu tidak akan lama lagi. Kemungkinan besar akan layu, kering dan akhirnya mati. Semua itu akibat pemangkasan setengah dari pohon yang sudah dilakukan beberapa bulan lalu.

Akan tetapi alam berkata lain. Ternyata setelah berbulan bulan, pohon belimbing tetap hidup dan berdiri tegak. Hebatnya lagi, belimbing itu justru berbuah dengah lebat meskipun tanpa daun yang sudah tidak tumbuh lagi.

Saya tidak paham tentang pertanian apalagi tumbuh tumbuhan. Tetapi mungkin karena akar pohon belimbing sudah tertanam lebih dalam sehingga ia bisa bertahan sekian bulan. Mungkin juga tanah tempat tumbuhnya memiliki banyak unsur nutrisi yang dibutuhkannya. Sehingga masih bisa berbuah sampai sekarang. Ternyata tanaman saja terus berjuang untuk bertahan hidup. Jadi malulah jika ada orang yang cepat putus asa dalam hidupnya.

Hujan, Banjir dan Kemarau

Kalau disuruh memilih, anda lebih suka musim hujan atau kemarau? Pertanyaan yang gampang-gampang sulit tentunya. Bagi anda yang tinggal di Jakarta musim hujan bisa bikin repot kala banjir menghampiri, tapi jika anda tinggal di Gunung Kidul Yogya, musim hujan pasti ditunggu-tunggu karena wilayah anda susah mendapat air kala musim kemarau tiba.

Seandainya pergantian cuaca bisa diatur-atur, tentu kita lebih memilih untuk mengatur jadwal hujan turun dan terbitnya matahari. Sebab kita maunya hujan turun sehari lalu matahari bersinar pada esok hari. Atau panas di siang hari lalu hujan di malam hari. Nah mungkinkah itu terjadi? Sesuatu yang tampaknya mustahil. Bagaimana bisa kita mengatur-atur kehendak alam? Yang ada justeru alam memperlihatkan keperkasaannya dengan menurunkan hujan sebanyak-banyaknya hingga mengakibatkan banjir serta tanah longsor yang menelan korban jiwa manusia, harta dan benda.

Ilustrasi hujan deras (©Theopilus Sandy)


Kalau anda tinggal di pulau Papua, disana tidak mengenal musim hujan dan kemarau. Tidak ada wilayah yang mengalami kekeringan disana, yang ada malah terkena banjir bandang seperti di Wasior beberapa tahun lalu. Itu juga lebih disebabkan oleh ulah manusia yang dengan serakahnya menebangi pepohonan di hulu sungai, sehingga mengakibatkan banjir lalu menerjang apa saja yang dilalui tidak terkecuali manusia itu sendiri.

Hujan selalu dinanti kehadirannya disaat musim kemarau panjang yang panas berdebu. Namun hujan yang turun berhari-hari dengan air yang deras dan melimpah akan memebuat sungai meluap, sawah dipenuhi air, empang jadi danau, air laut pasang masuk di muara sungai dan naik di pemukiman penduduk.

Namun sederas-derasnya hujan yang turun tentu masih lebih baik ketimbang musim kemarau berkepanjangan datang melanda yang berakibat tanaman layu, kering dan mati. Jadi jika saat ini hujan turun dengan derasnya di tempat anda, nikmati sajalah bukankah air itu sumber kehidupan? Jika banjir terjadi, mungkin saja saluran air di depan rumah anda tersumbat akibat kebiasaan membuang sampah ke dalam selokan, jangan tunggu sampai air masuk di ruang tamu, dapur, bahkan kamar anda. Segera bersihkan sampah yang menumpuk di selokan.

Pohon Besar Di Tepi Trotoar Kampus Unhas

Lingkungan tempat kita tinggal akan terasa sejuk dan nyaman jika berada di antara pepohonan yang rindang. Udara yang kita hirup dari alam terasa segar dan menyehatkan. Hal ini saya alami saat berjalan-jalan di sekitar kampus Universitas Hasanuddin Makassar. Di area kampus itu tumbuh berbagai jenis pohon dengan beragam ukuran. Ada yang baru tumbuh dan ada pula yang sudah berumur tahunan, bahkan yang berukuran besar juga dapat ditemui disini.

Demikian juga trotoar yang dibangun disekitar area kampus, pada sisinya ditanami pohon-pohan yang tumbuh dengan subur dan rindang. Kondisi ini membuat para pejalan kaki menjadi lebih santai dan menikmati lingkungan kampus yng asri. Saya bisa membayangkan betapa tenangnya para mahasiswa yang menuntut ilmu di kampus itu. Semua karena banyaknya pepohonan yang tumbuh di area kampus.

Kita semua bisa turut memikmati dan menjaga lingkungan sekitar tempat tinggal kita masing-masing. Tentu saja dengan menanam aneka ragam pohon, baik yang sekedar untuk pelindung atau sekaligus yang dapat menghasilkan buah, misalnya pohon mangga dan rambutan. Lingkungan yang asri dan sehat tentu menjadi dambaan setiap orang, maka mulailah menjaganya dari sekarang.