Translate

Vandalisme Pada Tulisan Di Anjungan Pantai Losari Makassar

Pantai Losari sejak dahulu sudah terkenal sebagai ikon kota Makasar dan tujuan wisata yang sangat populer di Sulawesi Selatan, selain Tana Toraja.
Pemandangan sunset dari lokasi ini merupakan salah satu yang indah dan menarik.

Beberapa tahun lalu pemerintah kota Makassar merevitalisasi pantai Losari dengan menambah beberapa anjungan yang bisa digunakan oleh para wisatawan untuk bersantai di pagi dan sore hari.

Untuk menandakan keberadaan kota maka dibanangunlah beberapa tulisan dalam ukuran besar, seperti city of Makassar lengkap dengah 4 nama suku yang ada di Sulawesi Selatan yakni Makassar, Bugis, Toraja dan Mandar.

Tapi entah mengapa selalu saja ada orang yang melakukan perusakan terhadap fasilitas umum yang dibangun untuk kepentingan bersama.

Misalnya tulisan pada Makassar, Mandar dan Toraja. Ada beberapa huruf yang rusak karena dilubangi, cat padamtulisan terlkelupas. Belum lagi coretan spidol pada berbagai huruf.

Meskipun sudah berulangkali diperbaiki, berullangkali pula tulisan-tulisan itu dirusak dan dihiasi coretan-coretan yang sangat mengganggu pemandangan serta merusak keindahan anjungan pantai Losari.

Vandalisme Terhadap Patung Anjungan Losari Makassar

Menurut berita yang dimuat pada halaman berita http://m.tempo.co/read/news/2012/12/21/204449643/Miniatur-Budaya-Makassar-di-Anjungan, biaya pembuatan patung-patung para tokoh pejuang Sulawesi Selatan di anjungan pantai Losari Makasar adalah 2 milyar rupiah. Tentu saja itu jumlah uang yang cukup banyak, maka seharusnya keberadaan patung-patung tersebut dijaga dan dirawat dengan sebaik-baiknya agar pengunjung bisa mengetahui siapa saja para tokoh pejuang yang pernah hidup di Sulawesi Selatan (Sulsel).

Tetapi ternyata ada saja ulah dari orang-orang iseng yang sungguh tidak patut ditiru. Ada salah satu patung yang kehilangan papan namanya, patung itu berdekatan dengan patung tokoh terkenal Sulsel lainnya yaitu Jend. M Jusuf dan Andi Mattalatta.

Selain papan nama patung yang menghilang, pada tembok dasar patung juga terdapat coretan kasar yang tentu akan merusak bagian dasar dari batu penyangga.

Mestinya para pengunjung atau siapapun yang datang di lokasi itu selalu memelihara ketertiban , kebersihan, serta keindahan patung. 

Kapal Karam dan Rusak di Paotere

Kapal Pinisi merupakan kapal tradisional buatan suku Bugis - Makassar. Kapal jenis ini sudah terkenal sejak dahulu kala akan ketangguhannya mengarungi laut luas.
Pinisi umumnya dipakai untuk mengangkut barang dan transportasi manusia, namun banyak pula yang digunakan sebagai kapal penangkap ikan oleh para nelayan.
Karena terbuat dari bahan kayu yang kuat maka biasanya kapal pinisi dapat bertahan lama dalam jangka waktu yang panjang.
Saat berjalan-jalalan di sekitar Paotere Makassar, saya mendapati beberapa kapal pinisi tua yang sudah rusak dan dibiarkan karam oleh pemiliknya. Hal itu mungkin berkaitan dengan ongkos perawatan dan penggantian bagian kapal yang rusak, mungkin saja harga perbaikan bisa mahal, sehingga lebih ekonomis jika membeli atau memesan kapal yang baru.